Pada hari Jum’at sejumlah surat melewati (pendengaran) seorang Mukmin. Boleh jadi ia membacanya sendiri seperti surat al-Kahfi. Atau, ia mendengarnya dari Imam Masjid saat shalat Subuh atau shalat Jum’at. Atau, ia mendengarnya pada saat disampaikannya khuthbah Jum’at.

Ketika sejumlah surat ini dihitung satu persatu, saya mendapatkan bahwa jumlahnya ada delapan surat. Di antaranya adalah surat Makiyyah, yaitu terdiri dari surat as-Sajdah, surat Qaf, surat al-Kahfi, surat al-‘Ala dan surat al-Ghasyiyah. Yang lainnya adalah surat Madaniyah, yaitu terdiri dari surat al-Jumu’ah, surat al-Munafiqun dan surat al-Insan. Kedelapan surat ini adalah surat-surat yang mana Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ biasa membacanya dan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memotivasi untuk membacanya pada hari Jum’at. [2]

Sebagai bentuk keyakinan kita bahwa setiap amal yang diperintahkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atau diperintahkan oleh Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pastilah terdapat berbagai macam hikmah dan makna yang sebagiannya akan nampak bagi orang yang merenungi dan mentadabburinya sejak pertama kali menghadapinya. Dan, sebagian hikmah dan makna-makna tersebut membutuhkan kepada olah pikir untuk mengeluarkan dan menemukannya. Oleh karena itu, kita akan berupaya mentadabburi kedelapan surat ini; agar kita dapat melihat sesuatu di antara rahasia-rahasia keistimewaan dan keutamaan ini yang secara khusus terkandung di dalamnya.

Surat-surat ini memiliki kesamaan dalam hal bahwa surat-surat ini mengingatkan manusia tentang persoalan yang besar dalam kehidupan dirinya, wajib untuk diperdengarkan ke telinga seorang Mukmin secara berkesinambungan, di mana persoalan besar ini diharapkan akan terpatri di dalam dirinya dengan kokoh yang akan menafikan setiap bentuk keraguan, dan dengan diulang-ulanginya hal ini akan membentuk pola pikir seorang Mukmin yang membiasakan diri untuk menghadiri shalat-shalat ini dengan berjama’ah.

Surat Pertama : Surat al-Kahfi    

Pada galibnya orang-orang yang mentadabburi surat ini berpandangan bahwa tujuan ayat-ayat dari surat ini berputar seputar masalah bimbingan dan arahan tentang cara selamat dan penjagaan diri dari fitnah dan berbagai macam bentuk ragamnya. Disebutkan dalam surat ini empat contoh bentuk fitnah ; yang dikategorikan sebagai bentuk fitnah yang terbesar di mana seseorang dicoba dengannya dalam kehidupannya.

  • Fitnah agama, terdapat dalam kisah Ashabul Kahfi, dan bagaimana para pemuda Ashabul Kahfi ini berlindung kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, mereka lari dari kekufuran kaumnya, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melindungi dan menjaga mereka dan menyelamatkan mereka.
  • Fitnah harta, terdapat dalam kisah Shahibul Jannatain (pemilik dua kebun), dan bagaimana si pemiliknya gagal dalam menghadapi ujian tersebut, sehingga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melenyapkan hartanya.
  • Fitnah ilmu, terdapat dalam kisah Khadhir bersama Nabi Musa عَلَيْهِ الصَّلَاةُ السَّلَامُ dan bagaimana Khadhir mensyukuri nikmat ini.
  • Fitnah kekuasaan, terdapat dalam kisah Dzulqarnain, dan bagaimana Dzulqarnain selamat dalam menghadapi ujian ini dengan mensyukuri nikmat yang agung ini dan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Terkait makna-makna nan agung ini, seorang Mukmin membutuhkan kepada pengingatan terhadap persoalan ini secara berkesinambungan. Oleh karena itu, maka surat ini disyariatkan untuk dibaca setiap hari Jum’at. Dan, dalam nama surat ini, yaitu, ‘al-Kahfi’ terdapat sesuatu yang menunjukkan kepada tema-temanya dan tujuan-tujuannya, yaitu sebuah penjagaan dan perlindungan yang bersifat meteril bagi orang yang memasukinya. Dan demikian pula makna-makna ayat-ayat surat ini merupakan penjagaan dan perlindungan diri bagi orang yang membacanya dan mentadaburinya dari fitnah-fitnah tersebut, dan dari fitnah terbesar, yaitu fitnah Dajjal. Oleh karena itu, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ

“Maka barang siapa di antara kalian mendapatinya-yakni, Dajjal-, maka hendaklah ia membacakan kepadanya fawatih (awal-awal) surat al-Kahfi.” [3]

Dalam riwayat lain :

مَنْ قَرَأَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ سُوْرَةِ الْكَهْفِ فَإِنَّهُ عِصْمَةٌ لَهُ مِنَ الدَّجَّالِ

“Barang siapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi sesungguhnya hal itu merupakan penjagaan diri baginya dari Dajjal.” [4]

Dan disela-sela surat ini, Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan peringatan akan adanya godaan setan dan memberikan isyarat akan penyelisihannya dan permusuhannya terhadap manusia, dalam firman-Nya,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam !” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Ia termasuk (golongan) jin, kemudian dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai penolong selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu ? Dia (Iblis) seburuk-buruk pengganti (Allah) bagi orang-orang zalim.” [5]

Surat Kedua : Surat as-Sajdah 

Ayat-ayat surat ini berbicara seputar penjelasan mengenai hakikat penciptaan dan berbagai macam keadaan manusia di dunia dan di akhirat, dengan penjelasan yang memadai dan cukup, yang akan dapat menjauhkan segala bentuk pemikiran menyimpang dari diri seseorang. Karena ayat-ayat surat ini menjelaskan secara rinci bagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, bagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menciptakan manusia pertama dari tanah, dan menciptakan keturunannya dari air yang hina, dengan perincian yang menarik yang hati seorang mukmin akan merasa tenang dan akan menambah keterikatan hatinya dengan Rabbnya, dan tidak berdaya kecuali ia tersungkur sujud di hadapan-Nya. Oleh karena itu, surat ini dinamakan surat as-Sajdah dan disyariatkan untuk melakukan sujud tilawat ketika membaca ayat ke-15 dari surat ini.

Surat Ketiga : Surat Qaf

Surat Qaf, dulu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membacanya dalam khutbah di hari Jum’at di kesempatan yang cukup banyak. Ummu Hisyam bintu Haritsah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا menyebutkan sebuah hadis yang menunjukkan banyaknya pengulangan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam membaca surat Qaf ini dalam khutbah Jum’at, di mana ia mengatakan :

وَمَا أَخَذْتُ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) إِلاَّ عَنْ لِسَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقْرَؤُهَا كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ

“Dan tidaklah aku menghafal surat (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) kecuali dari lisan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dulu, beliau sering membacakannya setiap hari Jum’at di atas mimbar saat beliau menyampaikan khutbah kepada manusia.” [6]

Ayat-ayat surat ini berbicara seputar penjelasan mengenai hakikat kebangkitan dan hari akhir, disertai dengan hujjah akan adanya hari akhir dan kebangkitan setelah kematian, dan hujjah akan keharusan mengesakan keilahiyahan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan menggunakan hujjah sifat kerububiyahan-Nya.

Surat Keempat : Surat al-Jum’ah

Surat ini dinamankan dengan surat al-Jum’ah karena disebutkannya hari Jum’at di dalam surat ini. Dan, surat ini menegaskan pentingnya memberikan peringatan kepada ummat pada hari yang agung ini ; dengan menyebutkan nikmat-nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang diberikan kepada umat ini, yaitu dengan diutusnya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menjadikannya sebagai petunjuk untuk ummat ini setelah berada dalam kesesatan yang nyata. Tidak diragukan bahwa hal ini merupakan persoalan yang terbesar dalam kehidupan seorang Mukmin, yang tidak selayaknya hilang dari pikirannya. Oleh karena itu, disyariatkan pembacaan surat ini dalam shalat Jum’at.

Surat Kelima : Surat al-Munafiqun

Surat ini menyingkap kedok orang-orang Munafik, menjelaskan hakikat mereka sebenarnya, menjelaskan beberapa sifat mereka yang paling kentara, untuk menjadi semacam warning mingguan; dari kolompok orang yang sangat berbahaya yang dapat merobohkan bangunan Islam dari dalam, dan menjelaskan kepada orang-orang yang beriman bahwa benteng pertahanan kita terancam dari dalam oleh mereka orang-orang Munafik ini. Dan, oleh karena besarnya bahaya mereka dan tidak terputusnya mereka dari masyarakat, semenjak masa nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ hingga hari ini; disyariatkanlah memberikan warning/peringatan dari bahaya mereka secara berulang-ulang, dengan membacakan ayat ini pada shalat Jum’at.

Surat Keenam : Surat al-Insan

Surat ini menegaskan tentang pentingnya mengingatkan manusia tentang asal usul penciptaan mereka, dan menjelaskan kesudahannya dan tempat kembalinya nanti di akhirat ; hal demikian itu agar seseorang berhati-hati dan menjadi jelas perkaranya. Di dalam surat ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan secara terperinci tentang bagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memulai penciptaan manusia, bagaimana manusia terbagi menjadi orang mukmin (beriman) yang bersyukur, orang kafir yang menolak dan mengingkari, dan tempat kembali masing-masing kelompok dari kedua kelompok manusia ini. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memperpanjang penjelasan mengenai tempat kembalinya ahlu Jannah (penghuni Surga) untuk menimbulkan kerinduan dan memberikan motivasi terhadap orang-orang yang beriman. Dan, di dalam surat ini, Diaسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  juga mengisyaratkan kepada nikmat diturunkannya al-Qur’an dan wajibnya sabar untuk mengamalkannya.

Surat Ketujuh : Surat al-A’la

Yang menjadi maksud dari surat ini adalah menegaskan kebergantungan jiwa dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dzat yang Maha Agung lagi Maha Tinggi dan untuk menegaskan pula bahwa seseorang hendakya bersungguh-sungguh dan bersemangat untuk meraih kebahagiaan dan kenikmatan-kenikmatan di kehidupan akhirat. Tidak terlalu bergantung pada kehidupan dunia dan kesenangannya yang akan sirna. Dan, surta ini membawa risalah yang pendek dan fokus, menegaskan kepada seorang Mukmin bahwa ketinggian sejati adalah berada dalam ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan takut kepada-Nya.

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى

“Orang-orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran.” (al-A’la : 10)

Dan bahwa kesengsaraan dan kerugian berada pada sikap menjauhkan diri dari nasehat ini dan bergantung dengan kehidupan dunia.

 وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى . الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى

“Sedangkan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar.” (al-A’la : 11-12)

Perhatikan di sini !, bagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyifati الشَّقِيّ (orang yang celaka) dengan firman-Nya,

الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى

“orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar.”

Dan hakikat yang besar ini hendaknya selalu berada di hadapan kedua mata orang yang beriman dalam kehidupannya seluruhnya, diulang-ulang kepadanya setiap waktu. Oleh karena itu, surat ini dibaca pada rakaat pertama dari shalat Jum’at, shalat Istisqa, dan shalat Ied.

Surat Kedelapan : Surat al-Ghasyiyah 

Surat nan agung ini mengingatkan tentang kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang agung, golongan-golongan manusia pada hari Kiamat, dan tempat kembali mereka di akhirat. Begitulah, surat ini menjelaskannya ! makna-makna yang agung terkait dengan tempat kembali nantinya, yang tidak selayaknya hilang dari ingatan seorang Mukmin selamanya. Dan, seorang Mukmin membutuhkan untuk mempelajarinya dan mengingat-ingatnya selalu. Oleh karena itu, surat ini disyariatkan untuk dibaca pada rakaat kedua dari shalat Jum’at, shalat Ied, dan shalat istisqa.

Dan, kita perhatikan, di antara perkara yang berkaitan di antara kedelapan surat ini adalah sebagai berikut :

1-Kedelapan surat ini menegaskan persoalan besar dalam kehidupan manusia.

Permulaan penciptaan langit dan bumi, permulaan penciptaan manusia, manhaj yang shahih di kehidupan dunia, dan tempat kembali di akhirat. Dan hal-hal ini merupakan persoalan di mana banyak manusia telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jelas. Tidak mengetahuinya kecuali siapa yang membaca buku-buku orang-orang yang sesat, dan mengetahui bagaimana telah sia-sianya usaha mereka dalam kehidupan dunia, dan bagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menunjukkan kita dengan al-Quran yang agung ini.

2-Berulangnya ayat-ayat tadzkir (pemberian peringatan) dzikir (mengingat) dan dzikra (peringatan) di dalam surat-surat ini.

Di surat al-Kahfi, di dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” [7]

Dan firman-Nya di dalam sebuah ayat yang agung yang berbicara tentang manhaj seorang Mukmin dalam peribadatannya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan pengekangan dirinya di atasnya :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” [8]

Dan firman-Nya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya ?.” [9]

Dan firman-Nya tentang isyarat kepada sebab lupanya pembantu Musa terhadap hut (ikan), bahwa yang membuatnya lupa adalah setan :

وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ  [الكهف : 63]

“Dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya, kecuali setan.”

Dan firman-Nya di akhir-akhir surat, dan ayat ini termasuk ayat yang paling menunjukkan kepada maksud kita :

وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا (100) الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا (101) [الكهف : 100 ، 101]

“Kami perlihatakan (neraka) Jahannam dengan jelas pada hari itu kepada orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang mata (hati)nya dalam keadaan tertutup dari ingat kepada-Ku dan mereka tidak sanggup mendengar.”

Di dalam surat as-Sajdah,

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur (dalam keadaan) sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya dan mereka pun tidak menyombongkan diri.” [10]

Dan firman-Nya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا [السجدة : 22]

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhanya, kemudian ia berpaling darinya ?.”

Dan telah lalu semisal dengan ayat ini di dalam surat al-Kahfi.

Di dalam surat Qaf, datang di dalam surat tersebut beberapa ayat yang berkisar seputar makna adz-Dzikra (peringatan) dan at-Tadzkir (pemberian peringatan), seperti firman-Nya,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan.” [11]

Dan, di akhir surat ini,

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ  [ق : 45]

“Maka, berilah peringatan dengan al-Qur’an kepada siapa pun yang takut pada ancaman-Ku.”

Di dalam surat al-Jum’ah, firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ . فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Apabila shalat (Jum’at) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” [12]

Di dalam surat al-Munafiqun, firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.” [13]

Di dalam surat al-Insan, (Firman-Nya)

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.” [14]

Di dalam surat al-A’la, (Firman-Nya),

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى . سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى

“Maka, sampaikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran.” [15]

Dan di dalam surat al-Ghasyiyah, (firman-Nya),

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ . لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

“Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” [16] 

Perhatikanlah bagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengagungkan pekerjaan memberikan peringatan ?! Seolah-oleh risalah Nabiصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  terbatas pada ‘pemberian peringatan’ ; karena adanya penjelasan tentang pentingnya pemberian peringatan dan pengulangan hal itu pada ruang dengar kita.

Dan pengulangan ‘pemberian peringatan’ dengan penyebutan kata-kata yang berkaitan dengannya dan berbagai macam gaya yang digunakan dalam surat-surat ini memiliki petunjuk tersendiri, di mana ‘pemberian peringatan’ itu mengharuskan adanya pengulangan berkalai-kali, dan ini selaras dengan perintah (atau anjuran) agar membaca surat-surat ini setiap Jum’at pada tempat-tempatnya yang telah diketahui.

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Tsalatsuna Majlisan Fi at-Tadabbur, Majalis ‘Ilmiyyah Wa Imaniyyah, Lajnah Ilmiyah di Markaz Tadabbur, Majlis ke-14, hal. 93-100.

Catatan :

[1] Tulisan Dr. Abdurrahman bin Mu’adhah asy-Syahriy حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى, Anggota Majlis al-Haiah al-‘Alamiyyah Li Tadabburi al-Qur’an, Dosen al-Qur’an dan Ulumul Qur’an di al-Malik Saud University, KSA.

[2] Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا meriwayatkan :

أَنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ يَقْرَأُ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ (الم تَنْزِيلُ) السَّجْدَةُ وَ (هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ) وَأَنَّ النَّبِىَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقْرَأُ فِى صَلاَةِ الْجُمُعَةِ سُورَةَ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِينَ.

Bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ biasa membaca الم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ (surat as-Sajdah) dan هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ (surat al-Insan), dan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ biasa membaca surat al-Jum’ah dan al-Munafiqun dalam shalat Jum’at (HR. Muslim, no.879)

Dan, Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْجُمُعَةِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ وَهَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ

Dulu, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ biasa membaca di hari Jum’at pada shalat Subuh, الم تَنْزِيلُ (surat) Sajdah, dan هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ (surat al-Insan). (HR. al-Bukhari, no.891)

[3] Shahih Muslim, no. 2936.

[4] HR. an-Nasai di dalam Amal al-Yaum Wa al-Lailah, no. 948.

[5] Surat al-Kahfi : 50.

[6] HR. Muslim, no. 378.

[7] al-Kahfi : 24

[8] al-Kahfi : 28

[9] al-Kahfi : 57

[10] as-Sajdah : 15

[11] Qaf : 37

[12] al-Jum’ah : 9-10.

[13] al-Munafiqun : 9

[14] al-Insan : 25.

[15] al-A’la : 9-10.

[16] al-Ghasyiyah : 21-22.