Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya sendagurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (al-Ankabut : 64)

Mutharif asy-Syikhir رَحِمَهُ اللهُ berkata,

” إِنَّ هَذَا الْمَوْتَ أَفْسَدَ عَلَى أَهْلِ النَّعِيْمِ نَعِيْمَهُمْ ؛ فَاطْلُبُوْا نَعِيْمًا لَا مَوْتَ فِيْهِ “

“Sesunguhnya kematian itu akan memusnahkan kenikmatan-kenikmatan yang ada pada orang-orang yang bergelimang dengan kenikmatan.

(Yakni, kenikmatan apa pun yang diperoleh seseorang di dunia ini bakal musnah, tidak lagi dapat dinikmati oleh seseorang bersamaan dengan diicabutnya ruhnya dari badannya, yaitu, saat kematian tiba).

Karena itu, carilah oleh kalian kenikmatan yang tidak ada di dalamnya kematian.”

(Abu Bakar Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, “Kitab az-Zuhdu al-Kabir”, 1/217)