Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dia juga mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghabun: 4)

Seorang lelaki datang kepada Ibrahim bin Adham salah seorang salaf yang zuhud, ahli ibadah. Lelaki tersebut telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri dalam berbuat berbagai bentuk kemaksiatan. Ia datang dan mengatakan, “Berilah wejangan kepadaku, hingga aku tidak kembali lagi melakukan kemaksiatan.”

Ibrahim bin Adham pun mengatakan, “Apabila engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka lakukanlah di tempat yang Dia tidak akan dapat melihatmu.”

Lelaki itu pun berujar, “Bagaimana hal itu dapat dilakukan sementara ilmunya meliputi langit dan bumi?.”

وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

“Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (al-An’am: 80)

Apabila engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah kamu makan dari rizki-Nya.

Lelaki itu pun mengatakan, “Bagaimana hal itu dapat dilakukan sementara segala rizki yang didapatkan oleh seorang hamba merupakan rizki yang dikaruniakan-Nya.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu, serta menganugerahi kamu rezeki yang baik-baik. Mengapa terhadap yang batil mereka beriman, sedangkan terhadap nikmat Allah mereka ingkar?” (an-Nahl: 72)

Orang itu pun menangis dan bertekad kuat untuk tidak kembali lagi melakukan kemaksiatan.

(Ahmad bin Abdullah as-Sunni, ‘Mausu’ah Khuthab al-Minbar’, 1/1716)