Sungguh, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan berlalunya waktu demi waktu sebagai pengingat bagi hamba-hambaNya yang beriman.
Bagi seorang yang beriman, dalam setiap waktu dari waktu-waktu yang ada, merupakan kesempatan untuk beribadah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Dan termasuk kebahagiaan seorang hamba adalah mengetahui kemuliaan zaman dan berharganya waktu. Mengetahui tugas-tugas tertentu untuk waktu-waktu tersebut, hingga ia memakmurkannya dengan ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Dan, seorang muslim selalu saja memperhatikan hal yang harus dilakukannya di waktu di mana ia tengah berada di dalamnya, memanfaatkan kesempatan itu untuk mewujudkan penghambaan dirinya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang merupakan maksud dan tujuan penciptaan dirinya.
Sungguh, bulan Sya’ban memiliki keutamaan di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Para salaf umat ini –semoga Allah meridhai mereka- mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan Sya’ban sebagaimana pula mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi bulan Ramadhan.
Lu’luah, mantan budak Ammar, mengatakan,
“كَانَ عَمَّارٌ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- يَتَهَيَّأُ لِصَوْمِ شَعْبَانَ كَمَا يَتَهَيَّأُ لِصَوْمِ رَمَضَانَ”
Dulu, Ammar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mempersiapkan diri untuk berpuasa pada bulan Sya’ban sebagaimana ia mempersiapkan diri untuk berpuasa pada bulan Ramadhan. (at-Tabshirah, 2/50)
(Zaenal Abidin Kamil, “Intabih…! Anta Fii Syahri Sya’ban” )



