Jum’at, 16 Agustus 2024

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah atas baginda Muhammad ﷺ penutup para Nabi dan imam para rasul dan atas keluarganya serta para sahabatnya secara menyeluruh.

Saudara, saudariku

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Wa ba’du.

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa telah terjadi perbincangan antara Musa ‘alaihis sallam dan dirinya sendiri –saya tidak mengerti bagaimana mereka mengetahui cerita tentang apa yang terjadi antara Musa ‘alaihis sallam dan dirinya sendiri –akan tetapi memang begitu yang dituliskan di beberapa kitab-kitab tafsir, yaitu telah terjadi perbincangan antara Musa ‘alaihis sallam dan dirinya sendiri. Mungkin maksudnya dia mengungkapkannya kepada sebagian keluarganya. Dia adalah Nabiyullahrasulullah dan kalimullah. Dan bahwa melalui tangannya Allah ﷻ menghancurkan Fir’aun dan balatentaranya, melalui kedua tangannya Allah ﷻ menyelamatkan Bani Israil dan tidak ada di muka bumi pada masanya orang yang lebih berilmu darinya. Maka Allah ﷻ hendak mengajarinya bahwa,

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ [يوسف : 76]

“Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Yusuf : 76)

Maka Allah ﷻ mewahyukan kepadanya bahwa ada pada masanya seseorang yang jauh lebih berilmu darinya. Maka Musa ‘alaihis sallam pun tidak ragu menunjukkan keinginannya untuk berguru kepada ustadz ini, ingin menciduk dari ilmunya, ingin belajar dari pengalaman dan keutamaannya serta ingin mendapatkan cahaya dengan pemberian Allah ﷻ kepadanya. Allah ﷻ mewahyukan kepadanya, “Jika engkau berjalan hingga sampai pada pertemuan dua buah lautan, engkau akan mendapati barangmu yang hilang. Ketika kehilangan ikanmu, engkau akan bertemu dengan seorang hamba yang shalih.

Dalam surat al-Kahfi diceritakan kisah ini. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ [الكهف : 60]

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya), “Aku tidak akan berhenti (berjalan)” (al-Kahfi : 60)

Tidak akan berhenti bepergian berpindah-pindah tempat

حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا [الكهف : 60]

“Sebelum sampai ke pertemuam dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (al-Kahfi : 60)

Ia mempunyai dorongan yang besar demi pentingnya bertemu dengan hamba yang shalih ini. Ia mempunyai keinginan yang kuat demi pentingnya mengambil faedah dari ilmu hamba yang shalih ini.

فَلَمَّا بَلَغَا

“Maka tatkala mereka sampai”

Mereka di sini maksudnya adalah Musa ‘alaihis sallam dan muridnya

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا

“Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya.” (al-Kahfi : 61)

Ini adalah pertama kalinya dua orang ini melalaikan ikannya. Musa ‘alaihis sallam lalai, muridnya juga lalai. Ikan yang sedang dibakar untuk bekal makan mereka kembali hidup dan melompat ke air, mencari jalannya di laut, melalui ombaknya.

فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

“Lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.” (al-Kahfi : 61)

Isyarat tentang kebangkitan setelah mati di sini adalah satu dari berbagai isyarat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa kebangkitan itu ada dua, yaitu, kebangkitan umum yang terjadi pada Hari Kiamat nanti, yang hanya diketahui oleh Allah ﷻ semata, dan kebangkitan khusus, ada beberapa contoh tentang kebangkitan jenis ini di dunia. Misalnya, Allah ﷻ berkehendak untuk menjadikan mukjizat Isa ‘alaihis sallam untuk membangkitkan orang yang meninggal dengan izin Allah ﷻ, korban pembunuhan dari Bani Israil dipukul dengan bagian sapi yang disembelih, kemudian ia bangkit dan berkata, “Saya dibunuh oleh fulan.” Ini adalah contoh kebangkitan.

Allah ﷻ berfirman kepada Bani Israil,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (55) ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (56) [البقرة : 55 ، 56]

“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Hai Musa. Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.” Karena itulah kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu, Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (al-Baqarah : 55-56)

Ini juga contoh kebangkitan.

Dalam surat al-Baqarah disebutkan,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ [البقرة : 243]

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati ? Maka Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu,” kemudian Allah menghidupkan mereka.” (Al-Baqarah : 243)

Ini juga contoh kebangkitan.

Firman Allah ﷻ

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ [البقرة : 259]

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya ? Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh ? “ Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.” (al-Baqarah : 259)

Ini juga kebangkitan. Selama seratus tahun keledai seseorang telah mati, dan Allah ﷻ membiarkan waktu berbuat sebagaimana mestinya kepada keledai itu, tapi Allah ﷻ mencegah waktu untuk mempengaruhi makanan. Ini bukanlah sesuatu yang aneh dalam kuasa Allah ﷻ. Kita sekarang mempunyai kulkas, orang-orang pada zaman dahulu mempunyai kemampuan membalsem, dan teknologi sekarang memungkinkan dengan kuasa dari Allah ﷻ, untuk menyimpan sesuatu untuk masa yang lama.

Setelah membangkitkan seseorang setelah kematiannya selama seratus tahun, Allah ﷻ berfirman kepadanya,

فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ

Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah kepada keledai kamu.”

Ia mendapati keledainya telah menjadi tulang-belulang yang berdebu,

وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ

“Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu.”

Allah ﷻ memerintahkan kepada tulang belulang keledai untuk bangkit dari tempatnya, membentuk susunan tulang belulang keledai, lalu memerintahkan kepada daging untuk membungkusnya dan memerintahkan kepada kulit untuk menutupinya serta memerintahkan rambut untuk tumbuh.

وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana kami menyusunnya kembali, kemudian Kami menutupnya kembali dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), dia pun berkata, “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah : 259)

Ini juga contoh sebuah kebangkitan.

Dalam surat al-Baqarah juga disebutkan,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati.” Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tenang hati saya.” Allah berfirman, “(Kalau demikian), ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah burung-burung itu kepadanya.” (al-Baqarah : 260)

Perhatikan baik-baik burung-burung itu, sehingga engkau mengenali kondisinya, kekhususannya dan perbedaannya.

ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا

“Kemudian letakkanlah tiap-tiap ekor darinya di atas tiap-tiap bukit.”

Ungkapan ini diringkas dengan dihapus, karena kedudukannya adalah untuk menjawab, “Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati.” Maka artinya Allah ﷻ memerintahkan kepada Ibrahim ‘alaihis sallam untuk menyembelih burung-burung itu, memotong-motong bagian-bagiannya dan meletakkan bagian-bagian yang dipotong pada setiap gunung, kemudian ia berdiri di suatu tempat untuk memanggil mereka kembali. Ternyata anggota-anggota tubuh burung itu mulai menyatu, beterbangan, membentuk tubuh yang sempurna dan sampai ke tempatnya berdiri.

وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Baqarah : 260)

Ini juga contoh sebuah kebangkitan.

Berubahnya tongkat Musa ‘alaihis sallam menjadi ular yang melata, ini lebih heboh lagi, karena merupakan kebangkitan hidup pada benda mati. Batu kerikil yang bertasbih di dalam genggaman Nabi ﷺ lebih heboh lagi, karena kehidupan yang ada pada benda mati membuatnya bisa mengucapkan dzikir kepada Allah ﷻ. lengan kambing beracun yang dipersiapkan oleh wanita Yahudi untuk Rasulullah ﷺ yang berkata kepada beliau, “Janganlah engkau memakanku wahai Rasulullah, karena aku beracun.”

Semoga berbagai contoh-contoh ini mendekatkan pemahaman kepada kita bagaimana ikan Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ –dan ini bagian juga dari runutan contoh-contoh kebangkitan-seekor ikan yang telah dikeluarkan dari laut, telah mati karena telah dicekik dan digoreng di atas minyak atau dibakar di atas api, kemudian kembali bangkit hidup lalu meloncat ke laut. Keduanya (Musa ‘alaihis sallam dan muridnya) meneruskan perjalanannya tanpa menyadari hal ajaib yang telah terjadi, sampai kemudian mereka merasakan lapar,

قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

“Berkatalah Musa kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita nabi; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” (al-Kahfi : 62)

Dari sini ingatlah anak muda itu,

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

“Muridnya menjawab, “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (al-Kahfi : 63)

Ikan itu dibangkitkan setelah kematiannya, dan memecah jalannya di air.

Musa ‘alaihis sallam mulai lupa rasa laparnya dan jiwanya mulai senang,

قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا (64) فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا (65)

“Musa berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejek mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami,” (al-Kahfi : 64-65)

Di sini Musa ‘alaihis sallam berdiri di hadapannya selayaknya seorang murid.

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Musa berkata kepada Khidhr, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” (al-Kahfi : 66)

Di sini sang ustadz berterus terang kepadanya,

إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (68) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (69)

“Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” Musa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (al-Kahfi : 69)

Kemudian ustadznya membuat suatu aturan dalam hubungan antara keduanya,

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (al-Kahfi : 70)

Wahai pembaca, tentulah terbayang oleh Anda bagaimana kuatnya keinginan Musa ‘alaihis sallam untuk mengikutinya, belajar kepadanya dan memenuhi syarat-syarat yang disepakati. Akan tetapi bayangkan juga bahwa tiba-tiba Musa ‘alaihis sallam mendapatkan sesuatu yang di luar perkiraannya, di tiga permasalahan yang kita akan membahasnya lebih lanjut, agar hujjah bisa tegak atas Bani Israil yang telah menghujat kenabian Muhammad ‘alaihis sallam kerena beliau pernah kelupaan sekali, dan di sini Musa ‘alaihis sallam pernah melupakan ikan, lalu kemudian lalai lagi sebanyak tiga kali, tapi kenabiannya sama sekali tidak terhujat oleh mereka.

Di mana logika kalian wahai Bani Israil ? Di mana akal sehat kalian ?

Cerita tentang tiga hal ini pembahasannya di masa yang akan datang, insya Allah,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

(Redaksi)

Sumber :

Al-Yahud Fi al-Qur’an al-Karim, Syaikh Shalah Abu Ismail, ei, hal. 204-212.