Jum’at, 9 Agustus 2024

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah atas baginda Muhammad ﷺ penutup para Nabi dan imam para rasul dan atas keluarganya serta para sahabatnya secara menyeluruh.

Saudara, saudariku

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Wa ba’du.

Sesungguhnya agama Islam itu jelas petunjuknya, jelas batasannya, Nabi ﷺ bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ لَكُمْ عَلَمًا فَانْتَهُوْا إِلَى عَلَمِكُمْ وَ إِنَّ لَكُمْ نِهَايَةً فَانْتَهُوْا إِلَى نِهَايَتِكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian mempunyai rambu-rambu, maka taatilah rambu-rambu kalian itu, dan sesungguhnya kalian mempunyai batasan, maka patuhilah batasan kalian itu.”

Rambu-rambu dalam agama Allah ﷻ sangat jelas. Sebagaimana saya katakan tidak hanya sekali, kita dituntut untuk menundukkan hawa nafsu kita kepada agama Allah ﷻ.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”

Inilah sabda Rasulullah ﷺ

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ [الأحزاب : 6]

“Nabi itu (hendakknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri.” (al-Ahzab : 6)

Ini adalah firman Allah ﷻ Rabb semesta alam.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) [النازعات : 40 ، 41]

Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal (nya).” (an-Nazi’at : 40-41)

Setiap yang diingini oleh nafsu, haruslah dihadapkan kepada agama Allah ﷻ. Yang diakui oleh agama maka itu halal, dan yang dilarang oleh agama maka itu haram.

Akan tetapi Yahudi hanya mengikuti hawa nafsu mereka, maka Allah ﷻ menyeru mereka,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ [المائدة : 77]

Katakanlah, “Hai Ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Maidah : 77)

Kemudian Allah ﷻ menumpahkan laknat-Nya atas Bani Israil dengan menyebutkan sebab-sebabnya,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا [المائدة : 78 – 80]

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu lihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang kafir (musyrik).” (al-Maidah : 78-80)

Mereka berkasih sayang dengan orang-orang musyrikin, padahal mereka mengetahui Muhammad ﷺ sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka sendiri.

لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (81) [المائدة : 80 ، 81]

“Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka ; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah : 80-81)

Karena itulah ada semacam benang penghubung antara mereka dengan orang-orang musyrik.

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا [المائدة : 82]

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.” (al-Maidah : 82)

Allah ﷻ menyebutkan orang-orang Yahudi terlebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang musyrik dalam hal permusuhan. Adapun orang-orang Nasrani, disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, bukan karena mereka Nasrani, tapi karena sebab-sebab berikut ini,

ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (82) وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ [المائدة : 83]

“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri).” (al-Maidah : 82-83)

Dan terakhir, karena mereka memaklumkan keimanan mereka,

يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (83) وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ (84) فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ (85) [المائدة : 83 – 85]

“Mereka berkata, “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur’an dan kenabian Muhammad). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Rabb kami memasukan kami ke dalam golongan orang-orang yang shaleh.” Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlash keimanannya).” (al-Maidah : 83-85)

Mereka adalah musuh-musuh kita, dan inilah bentuk permusuhan mereka. Maka hendaknya orang-orang yang beriman berhati-hati.

Sesungguhnya Allah ﷻ yang membolehkan sesuatu untuk orang-orang Nasrani, yang sebelumnya diharamkan atas orang-orang Yahudi, melalui lisan Isa al-Masih ‘alaihis sallam, menerangkan kenapa Dia ﷻ mengharamkan atas Yahudi beberapa hal yang halal. Allah ﷻ berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ (146) فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ رَبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ (147)

“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka ; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. Maka jika mereka mendustakan kamu katakanlah, “Rabb mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa.” (al-An’am : 146-147)

Wahai saudara dan saudariku,

Aku jalan-jalan di taman al-Qur’an-jika boleh dikatakan demikian- dan aku mengajak kalian dalam perjalanan saya di dalam kitab Allah ini- ini adalah kemuliaan yang tiada lagi yang lebih mulia setelahnya-saya mendapati kisah Musa ‘alaihis sallam dan hamba yang shaleh dalam kisah ini, yang menunjukkan bukti yang besar atas puncak dari tabiat orang-orang Yahudi. Mereka mendapatkan kepercayaan penuh dari orang-orang musyrik, hingga mereka pergi kepada orang Yahudi dan berkata, “Kalian adalah ahli kitab yang pertama, maka apa pendapat kalian tentang Muhammad ?” Maka orang Yahudi melontarkan beberapa pertanyaan kepada orang-orang musyrik dan berkata bahwa tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kecuali hanya Nabi.” Maka tanyakan kepadanya tentang Ashabul Kahfi, tanyakan kepadanya tentang Dzulqarnain, dan tanyakan kepadanya tentang ruh.”

Pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, dan tidaklah mungkin bagi seorang Nabi untuk berkata tanpa didasari wahyu dan tanpa didasari ilmu. Saat itu beliau ﷺ belum menerima wahyu saat pertanyaan diajukan kepada beliau, maka beliau menjawab mereka, “Besok aku jawab kalian.” Tapi beliau ﷺ lupa mengatakan, “Insya Allah.” Dan Allah ﷻ memberi pelajaran adab kepada beliau, dengan pengajaran yang bagus. Sebenarnya Allah ﷻ bisa saja menurunkan wahyu kepada beliau langsung setelah mendapat pertanyaan. Allah ﷻ pernah mengangkat baitul maqdis, maka beliau ﷺ menceritakannya sambil melihat kepadanya langsung. Dan ketika beliau ﷺ didatangi seorang wanita yang mengadu kepadanya tentang suaminya yang telah berkata kepadanya, “bagiku engkau seperti punggung ibuku.” Wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya mempunyai anak-anak kecil darinya. Bila engkau menyerahkan mereka kepadaku, maka mereka akan kelaparan karena aku seorang yang fakir. Bila engkau membiarkan mereka bersama ayahnya, mereka akan tersia-siakan karena ayahnya akan menikahi wanita yang bukan ibu mereka, sementara ia tidak mengucapkan satu pun kalimat talak.” Maka Nabi ﷺ berkata kepada wanita itu, “Menurutku, engkau telah haram atas dirinya.” Wanita itu menggugat dan mengadukan kondisisnya yang buruk, dan Allah ﷻ menurunkan wahyu langsung pada saat pengaduan itu.

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ [المجادلة : 1]

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesunguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mujadilah: 1)

Berkata Aisyah, semoga Allah yang Maha Tinggi dan pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu meridhainya, “Saya saat itu berada di sisi wanita itu, saya mendengar sebagian ucapannya, dan sebagian besar ucapannya tersamar dariku. Akan tetapi Allah ﷻ dari tempat-Nya yang tinggi mendengar ucapannya dan menurunkan hukum atas permasalahannya.

Allah ﷻ bisa saja menurunkan wahyu kepada beliau ﷺ langsung setelah mendapat pertanyaan. Namun karena Nabi ﷺ berkata, “Besok aku jawab kalian.” beliau ﷺ lupa mengucapkan ‘Insya Allah’, maka wahyu terputus dari beliau selama 15 hari.

Ini adalah kesempatan bagi kesombongan orang-orang yang sombong. Orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin berkata, “Muhammad dibenci dan ditinggalkan oleh Rabbnya, diabaikan dan dibenci oleh Rabbnya, kebohongannya terungkap, kenabiannya sudah habis.”

كُلُّ الْمَصَائِبِ قَدْ تَمُرُّ عَلَى الْفَتَى *** وَتَهُوْنُ غَيْرَ شَمَاتَةِ الْحَسَّادِ

Setiap musibah yang bisa menimpa seorang pemuda

Mudah ia menghadapinya, kecuali kesombongan pendengki

Akan tetapi Allah ﷻ menurunkan wahyu-Nya setelah 15 hari untuk berfirman kepada Rasul-Nya yang mulia,

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24) [الكهف : 23 ، 24]

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut), Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Rabb-mu jika kamu lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (al-Kahfi: 23-24)

Kemudian Allah ﷻ mewahyukan kepadanya cerita (yang hanya bisa diceritakan oleh) Dzat yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib, tentang ruh, yang kadang maksudnya adalah nyawa yang tubuh bisa hidup karenanya, kadang maksudnya adalah malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu, Jibril, dan kadang maksudnya adalah al-Qur’an.

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا [الشورى : 52]

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami.” (asy-Syura : 52)

Allah ﷻ mewahyukan semua itu, kemudian menoleh kepada urusan Yahudi untuk mengatakan kepada mereka, “Kalian telah menghujat kenabian Muhammad karena ia pernah lupa sekali untuk mengucapkan insya Allah. Ini cerita tentang Nabi kalian, Musa, yang tidak kalian ragukan sama sekali kenabiannya. Dia pernah empat kali lupa tapi kalian tidak menghujat kenabiannya karena sebuah kelupaan yang dengannya engkau menghujat kenabian Muhammad ﷺ . Di mana logika kalian wahai Bani Israil? “

Adapun tentang bagaimana Musa ‘alaihis sallam lupa sampai empat kali, kita bahas insya Allah pada pertemuan berikutnya.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

(Redaksi)

Sumber:

Al-Yahud Fi al-Qur’an al-Karim, Syaikh Shalah Abu Ismail, ei, hal. 195-203.