Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)
“Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang Muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (al-Hijr : 2-3)
Syumaith رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى mengatakan :
“Manusia itu ada dua ; (1) orang yang mengambil bekal di dunia dan (2) orang yang hanya bersenang-senang di dunia, maka lihatlah dirimu termasuk yang mana ?
Sungguh, aku melihatmu suka hidup lama di dunia, tetapi untuk apa hal itu ?
Apakah untuk menaati Allah, memperbagus ibadah kepada-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal-amal shaleh ?
Bila demikian, alangkah bahagianya kamu.
Ataukah hanya untuk makan, minum, bersendagurau, bermain-main, mengumpulkan dunia dan mengembangkannya, serta menjadikan anak dan istri bergelimang harta ?
Kalau demikian, betapa buruknya keinginanmu untuk berlama-lama tinggal di dunia. “
(bnul Jauzi, Shifatu ash-Shafwah, 3/343)



