Rasulullah ﷺ bersabada :

Anak Adam memiliki tiga kekasih.
Kekasih (pertama) mengatakan : Apa yang engkau infakkan maka milikmu, dan apa yang engkau tahan, maka bukan milikmu. Maka, ini adalah hartanya.

Kekasih (kedua) mengatakan : Aku bersamamu, namun ketika engkau telah masuk pintu sang Raja, aku tinggalkan kamu, dan aku akan kembali. Maka, itu adalah keluarganya dan pembantunya.

Kekasih (ketiga) mengatakan : Aku bersamamu kapan saja kamu masuk dan kapan saja kamu keluar. Maka, ini adalah amalnya.

Lantas, ia mengatakan (kepada kekasihnya yang ketiga ini), “Sungguh, dulu (semasa hidupku di dunia) engkau adalah kekasihku yang paling aku remehkan.” [HR. Ibnu Hibban, no. 3108]

Kekasih ketiga yang tidak memisahkan diri dari seseorang ini mengatakan ‘Sungguh, dulu (semasa hidupku di dunia) engkau adalah kekasihku yang paling aku remehkan, engkau telah tersibukkan oleh dua kekasihmu yang kini telah memisahkan diri darimu.’

Wahai manusia…
Semasa hidup di dunia, seseorang tentunya memiliki keluarga yang ia pergauli. Ia pun tentunya harus memiliki harta sebagai sarana untuk melangsungkan kehidupannya. Maka, dua hal ini adalah teman dan kekasihnya. Namun, keduanya bakal memisahkan diri darinya.

Tidakkah engkau pernah mendengar sabda Nabi ‘Keluarganya dan hartanya akan kembali’ keduanya akan memisahkan diri dari seseorang yang telah meninggal dunia.

Oleh karena itu, Rabb kita memerintahkan kita supaya beramal. Memerintahkan kita untuk mengambil teman dan kekasih yang tak akan memisahkan diri dari kita,

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Beramalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat amalmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Dzat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]:105)

Maka bertemanlah dengan kekasih yang tidak akan memisahkan diri darimu ini.

Wahai manusia…
Rabb kita, ketika memerintahkan kita untuk beramal, Dia menjanjikan balasan yang baik. Dia berfirman,

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّنَعِيْمٍۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.”

فٰكِهِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْۚ وَوَقٰىهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ

“Mereka bersuka ria dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada mereka. Tuhan menjaga mereka dari azab (neraka) Jahim.”

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ

(Dikatakan kepada mereka,) “Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan!”
(Aṭ-Ṭūr [52]:17-19)

(Syaikh Dr. Sa’id al-Kamali, al-‘Amal ash-Shalih Shaahibuka Alladzi Lan Yufaariquka)