Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar mensucikan nama-Nya dengan firman-Nya,
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (al-A’la : 1)
Kemudian, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى
“Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya).” (al-A’la : 2)
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, الَّذِي خَلَقَ “Yang menciptakan”, yakni yang mengadakan dari tiada menjadi ada.
Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang mengadakan seluruh makhluk ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia (Allah) pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri ? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-An’am : 101)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“(Yaitu Dzat) yang miliki-Nyalah kerajaan langit dan bumi, (Dia) tidak mempunyai anak, dan tidak ada satu sekutupun dalam kekuasaan(-Nya). Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (al-Furqan : 2)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah serkali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau pun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.” (al-Hajj : 73)
Ini merupakan perumpamaan yang sangat agung, seluruh sesembahan yang disembah selain Allah tidak mampu menciptakan seekor lalat pun walau pun mereka bersatu untuk menciptakannya. Sekiranya seluruh sesembahan yang disembah selain Allah, seluruh raja dan penguasa, seluruh tenaga ahli berkumpul untuk menciptakan seekor lalat niscaya mereka tidak akan mampu menciptakannya.
Kita sekarang hidup di era teknologi yang berkembang pesat. Sekiranya seluruh pakar teknologi berkumpul untuk menciptakan seekor lalat niscaya mereka tidak akan mampu menciptakannya. Meskipun konon mereka mampu menciptakan manusia robot namun mereka tetap tidak bisa menciptakan seekor lalat pun. Manusia robot yang mereka ciptakan itu hanyalah mesin yang digerakkan saja, tidak bisa merasa lapar, dahaga, merasa panas atau dingin, tidak dapat bergerak kecuali bila digerakkan. Tidak ada yang mampu menciptakan lalat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang menciptakan, lalu dengan apa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan ? dengan satu perkataan saja. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya : “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Ali Imran : 59)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : “Jadilah !” maka terjadilah ia.” (Yasin : 82)
Hanya dengan satu perkataan saja, semua makhluk akan mati dan binasa kemudian dimakan tanah, dimakan binatang buas, hangus terbakar api, namun di Hari Kiamat nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membangkitkan mereka dengan sekali tiupan saja, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Keluarlah!” maka keluarlah seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ . فَإِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ
“Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (an-Nazi’at : 13-14)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ
“Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).” (Yasin : 53)
Semua makhluk, baik manusia, jin, binatang, serangga dan yang lainnya pada Hari Kiamat nanti akan dikumpulkan dengan sekali teriakan saja. Jadi, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang menciptakan, tidak ada yang mampu menciptakan selain Dia, tidak ada kesulitan dan kepayahan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menciptakan, sangatlah mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya dengan satu ucapan saja.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : فَسَوَّى “lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya)”, yakni yang menyempurnakan apa yang diciptakan-Nya dalam sebaik-baik bentuk dan dalam bentuk yang seimbang. Manusia misalnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ . فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
“Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (sususan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (al-Infithar : 7-8)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (at-Tin : 4)
Tidak ada makhluk yang lebih sempurna penciptaannya selain manusia, kepalanya berada di atas, hatinya tersimpan rapi dalam dada dan diciptakan dalam kondisi yang sempurna. Oleh sebab itu yang pertama kali dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
فَسَوَّى
“lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya).” (al-A’la : 2) adalah kesempurnaan penciptaan manusia.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى
“Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya).” (al-A’la : 2)
Segala sesuatu diciptakan sesuai dengan bentuk yang cocok untuknya.[1]
Faedah :
1-Firman-Nya :
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى
“Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya).” (al-A’la : 2)
Maf’ul (objek) kata خَلَقَ “menciptakan” tidak disebutkan; maka boleh ditakdirkan ‘umum’, yakni, Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu. Dan, boleh pula ditakdirkan ‘khusus’, yakni Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia, atau Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam, karena adanya pengaitan atau penghubungan antara kata kerja خَلَقَ (menciptakan) dengan kata kerja سَوَّى (menyempurnakan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي
Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku. (al-Hijr : 29) [2]
2-Firman-Nya :
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى
“Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya).” (al-A’la : 2)
Penyempurnaan (taswiyah) maknanya adalah taqwim (pembentukan) dan at-Ta’dil (perbaikan dan penyesuaian). Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan setiap makhluk pada keadaan terbaik yang sesuai dan cocok bagi bentuknya dan sesuai dan cocok pula untuk apa dia tercipta. Maka, Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit-langit lalu Dia Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakannya dalam bangunannya yang paling kokoh dan paling tinggi ketebalannya, dan paling kuat ketahanannya. Anda tidak akan melihat pada langit tersebut adanya belahan atau keretakan sama sekali, tidak pula adanya cela sama sekali. Dia Subhanahu wa Ta’ala menghiasi langit itu dengan bintang-bintang.
Dia Subhanahu wa Ta’ala juga menciptakan bumi dan menghamparkannya. Darinya Dia Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat pengembalaan. Gunung-gunung Dia Subhanahu wa Ta’ala pancangkan dengan kukuh. Dan, Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan bumi sebagai hamparan.
Dia Subhanahu wa Ta’ala juga menciptakan pohon-pohon dan menyempurnakannya sehingga layak untuk berbuah dan menjadi bahan bakar api dan lain sebagainya.
Dan, begitu pula hewan-hewan yang diciptakannya, dalam penciptaannya dan penyempurnaannya terdapat tanda kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya. [Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman]
أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الْأِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan ? Bagaimana gunung-gunung ditegakkan ? Bagaimana pula bumi dihamparkan ?.” (al-Ghasyiyah : 17-20)
Adapun perihal manusia, maka dia tercipta dan disempurnakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kesemuanya itu termasuk hal yang mewajibkan adanya hak bagi-Nya Subhanahu wa Ta’ala untuk disucikan nama-Nya pada dzat dan seluruh sifat-sifatNya, di mana Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menghimpun antara penciptaan dan penyempurnaan, karena kesempurnaan kekuasaan dan kesucian (yang dimiliki-Nya) dari segala bentuk kekurangan. [3]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, ei, hal. 299-301. Dengan sedikit gubahan.
[2] Lihat : Tafsir az-Zamakhsyari, 4/738, Tafsir al-Baidhawiy, 5/305, Tafsir Abu Sa’ud, 9/143, Tafsir Ibnu Asyur, 30/275, dan I’rab al-Qur’an, Durwaisy, 10/449.
[3] Adh-wa-ul Bayan Fii Idha-hi al-Qur’an bi al-Qur’an, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithi, 8/502.



