Barang siapa yang melapangkan jiwanya untuk mengikuti (ajakan) hawa nafsunya, niscaya dirinya bakal merasakan kesempitan di dalam alam kuburnya dan pada hari ketika ia kembali ke haribaan-Nya. Namun, barang siapa mempersempit jiwanya dengan menyelisihi (ajakan buruk) hawa nafsunya, niscaya dirinya bakal dilapangkan di dalam kuburnya dan pada hari ketika ia kembali ke haribaan-Nya.

Allah سُبْحَانهُ وَتَعَالَى telah mengisyaratkan kepada hal ini di dalam firman-Nya:

وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) Surga dan (pakaian) sutra.” (Qs. al-Insan : 12)

Maka, ketika dalam kesabaran mereka –yakni pengekangan jiwa dari menuruti ajakan hawa nafsu mereka– terdapat kekerasan dan kesempitan maka Allah سُبْحَانهُ وَتَعَالَى memberi balasan kepada mereka berupa kelembutan sutra dan kelapangan Surga atas hal itu.

(Ibnul Qayyim, Raudhatul Muhibbin, hal.480)