Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (al-Hujurat : 13)
Bermuamalah dengan sesama, sebuah kebutuhan. Karena, fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Muamalah yang baik, bisa menjadi sebab kebahagiaan. Namun, bisa jadi bukan kebahagiaan yang hakiki, namun kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan yang tampak oleh mata, faktanya berbeda dengan hatinya. Roman mukanya memancarkan cahaya keceriaan, sementara hatinya menyimpan gelapnya kegundahan.
Mungkin saja, ini terjadi pada dirimu dan kamu pun bertanya, ‘mengapa ini terjadi?’, Jawabnya, “Karena muamalahmu bukan karenaNya, Dzat yang meciptakan hati dan membolak-balik keadaannya.”
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah al-Harani Abul ‘Abbas rahimahullah berkata, “Kebahagiaan dalam bermuamalah dengan makhluk adalah engkau bergaul dengan mereka karena Allah.
Maka, berharap (pahala) kepada Allah dalam bergaul dengan mereka dan tidak mengharapkan balasan apa pun dari mereka dalam melakukan kebaikan yang diperintahkanNya.
Engkau takut kepadaNya dalam bergaul dengan mereka dan tidak takut kepada mereka dalam menjalankan perintahNya.
Engkau berlaku baik kepada mereka karena mengharap pahala dan ganjaran Allah, bukan karena sebagai bentuk imbal balik kepada mereka, bukan pula karena bermaksud untuk mencegah tindak kezaliman mereka (terhadap dirimu). Jadi, lakukanlah hal itu karena takut kepada Allah, bukan karena takut kepada mereka.”
(Majmu’ al-Fatawa, 1/51)



